GREAT ESCAPE! eksotisme Kidang Pananjung
March 14, 2010 at 1:34 am 2 comments
”Berjalanlah kamu (di muka) bumi, lalu perhatikanlah…”
hmm. Yaa saya ambil kalimat itu dari Our Holy Qur’an. Memang dipotong, kalo dilanjutkan kalimatnya jadi “lalu perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang berdosa”. Baiknya kalo membaca terjemahan jangan setengah-setengah, nanti salah tafsir. Gawat kan kalo salah, nanti disalahgunakan, yang benar aja dibilang salah apalagi yang salah, mau dibilang benar juga? hehe. Nah kalo yang ini insya Allah gak akan saya salah artikan tafsir yang setengah itu “Berjalanlah kamu di muka bumi..” Gak cuma mau liat dosa-dosa doang. Dosa banyak. Gak usah jauh-jauh berjalan ke muka bumi yang berjarak, nengok samping noh ada: adek menganiaya semut dengan sapunya; depan ada: si gw asik-asikan depan laptop sementara adek dan ibu beres-beres (hehe..bentar ya buu ini lagi semangat nulis) jadi saya mau cerita yang lain aja ah berjalan ke muka bumi nya selain melihat ‘akibat dosa’.
Oke, wedew baru kesampean mau nulis great escape Kidang pananjung! Berjalan ke bumi kidang pananjung. Suatu desa di lereng gunung, tepatnya di daerah Cililin, Kabupaten Bandung Barat. Desa ini terpilih sebagai lokasi Farmasi pedesaaan XIII.Semoga kita dimudahkan ke desa ini dan apa yang diharapkan oleh kedua belah pihak (warga desa dan panitia Fardes) bisa terlaksana.
Inilah eksotisme Desa Kidang Pananjung:
- Masalah yang paling utama berdasarkan musyawarah adalah pendidikan. Walaupun pendidikan sudah gratis, untuk SD, SMP dan SMA, tetapi warga merasa berat untuk masalah transportasi. Jarak yang cukup jauh antara tempat sekolah dan desa bisa membuat warga perhari mengeluarkan uang Rp 20.000 untuk membiayai pergi kesekolah. Sedangkan pernghasilan rata2 perkapita perhari adalah hanya sebesar Rp 8360. Emang daerahnya jauh dari pusat masa, jalan rusak dan menanjak.
- Masalah kedua menurut warga adalah masalah kesehatan. Sebenernya pemerintah sudah mengadakan jamkesmas untuk warga desa KP ini, sehingga mereka bias gratis ke puskesmas. Tetapi yang jadi masalah adalah tempat puskesmas yang sangat jauh dari desa bahkan sampai memakan biaya rp 300.000 untuk ongkos perjalanan. Karena hal ini masyarakat cenderung malas untuk pergi ke puskesmas, dan memilih untuk menahan penyakitnya atau mengobati sendiri.
- Masalah MCK, masih banyak RW yang belum dilengkapi MCK disetiap rumahnya. Seperti RT03, RW 02 & 01. Masih banyak warga yang sudah mempunyai rumah dari batu bata, tapi tidak membuat MCK karena sudah terbiasa di ‘luar’.
- Masalah kesehatan air. Hamper seluruh warga desa KP mengambil air dari sumber mata air. Tapi masalahnya pada saat hujan air nya yang biasanya bening berubah menjadi putih keruh. Mereka bertanya apakah ini berbahaya untuk dikonsumsi atau tidak. Apakah butuh filter ato bgmn baiknya. Karena ada seorang warga yang menggunakan sumur yang letaknya tidak jauh dari sumber mata air, tetapi pada saat musim hujan tidak mengalami kekeruhan seperti sumber mata air itu.
- Masalah ketiga adalah mengenai ekonomi. Karena menurut mereka perekonomian tidak merata. Komoditas utama dari desa KP adalah singkong, yang biasa mereka buat menjadi tape. Tapi ada banyak kendalanya karena dalam 3 hari saja tape itu sudah busuk. Juga mereka mengeluhkan kurangnya pemasaran karena mereka tidak terlalu mengerti bagaimana caranya.
- Masalah keempat adalah mengenai sarana. Banyak jalan yang longsor dan rusak berat. Maka dari itu desa KP sulit dijangkau.
Yaah begitulah sekilas tentang Desa Kidang Pananjung. Di samping masalah mereka ada juga keeksotisan masyarakat dan kondisi alam di sana. Ketika pertama kali datang kesana, kamu akan melihat daerah hijau di sekeliling, really really green. Bahkan gak ada sifat komparatif atau superlatif tentang hijau di sana karena kehijauan adalah milik mereka semua. That’s why I mean it’s great escapes! Kalo kamu stress datang deh ke sana liat yang ijo-ijo. Tapi miris memang, kebersihan dari masyarakatnya kurang.
Foto-foto yang lain ada di saya.. kalo mau liat hubungin saya kawan!
”Berjalanlah kamu (di muka) bumi, lalu perhatikanlah bahwa hidup kamu bukan berkisar antara saya, kamu dan dia, jadi bukan berarti kamu senang dan sedih karena saya dan dia“
Entry filed under: Jalanan. Tags: desa, Farmasi pedesaan, kidang pananjung, liburan, pengabdian masyarakat, semangat.











1.
rosi | November 11, 2010 at 2:08 am
Assalamu’alaikum…
Purwa, izin copy foto Kidang Pananjungnya ya…
2.
Purwa Sari | November 13, 2010 at 4:04 pm
Waalaikumsalam. iya kak..