Archive for September, 2011
Bad Guy
I met a bad guy, very bad guy. He came in with a million hopes of happiness. But it was all fake, he left a million imperfections.
grrr. Sabar ya mbak..
Audi
Kemarin saya mengunjungi sebuah mall dan kebetulan sedang ada stand ppenjualan mobil di atriumnya. Seperti biasa selain seberkas informasi tentang si mobil, dipamerkan juga contoh si mobilnya. Mengenai mobil, sebenarnya saya suka yang jenisnya macho, contohnya mobil-mobil bermerk nissan: Terrano, X-trail, atau sejenis honda: CR-V. Di pameran kemarin ada mobil sejenis itu, dan saya hanya bisa memandanginya. Oh God, when do I own them?
Nyehe… mengintip sebuah brosur yang mencantumkan harga mobil mercedez, uh~yeah 760jt. Otak saya langsung berpikir, butuh berapa lama saya kerja agar bisa mengumpulkan uang sebanyak itu?
Salah satu mobil yang tidak biasa saya kagumi adalah berjenis sedan. Karena menurut saya mobil sedan adalah mobil yang pelit, maksimal hanya mengangkut 5 orang. Padahal kalau bertamasya kan lebih asyik bareng-bareng. Selain itu mobilnya pendek dan kurang macho. Tetapi kemarin saya cukup tertarik dengan salah satu jenis sedan bermerek Audi A6. Sebenarnya sama saja sih seperti mercedez x6 atau mungkin sejenis dengan vios. Tapi yang ini saya suka, apa karena namanya ya Audi? (gak nyambung). hehe. Desainnya ya begini:
But then, I still love the macho car. God, gimme one please…
note: image from: bestcarsfashion.blogspot.com
Melihat Biola Tergantung di Kamar
Teringat kado pemberian sang kekasih di ulang tahunku ke 22 adalah sebuah biola (aciee kekasih..). Sayangnya aku tidak bisa memainkannya, permainanku acak dan absurd. Kata temanku Pretty, dari pengalamannya biola adalah alat musik yang paling sulit dimainkan. Faisal bilang aku harus belajar dari dasar, mulai dari cara memegang bow dan body biola sampai cara menggesek yang baik dan benar. Padahal aku sudah bisa memainkan satu lagu Happy Birthday tetapi tetap saja guru biola aku itu tidak terima. Belajar memegang saja salah gimana mau main lagu, dia bilang.
Oke baiklah, saat ini memang biolaku masih tergantung di suatu tembok salah satu kamar. Aku berjanji kalau aku tidak bisa bermain biola dengan baik nanti aku akan mewariskan keinginanku tersebut ke anak ku saja. Jadi tenanglah biola, kamu tidak akan selalu menjadi pajangan. haha.
Hari Ini: Telat Berpikir
Hari ini saya melihat seorang bapak tunanetra melambai-lambaikan tangan di tepi jalan. Bergerak maju-mundur. Kasihan. Dari jauh saya kira beliau ingin menyeberang. Saya memperlambat laju motor, saya ingin menolong tapi dasar mikirnya kelamaan seorang pedagang rokok sudah berlari mendahalui menyeberang jalan dan menyahut kepada bapak tunanetra itu. Saya masih memperlambat laju motor ketika tepat berada di depan dua orang yang sedang tolong-menolong tersebut. Dari dekat saya melihat bapak tunanetra berpeluh keringat. Ternyata beliau tidak ingin menyeberang tetapi beliau ingin naik angkot, hendak ke Kopo. Dan, saya melihat bapak itu di Taman Sari. Kopo-Taman Sari jauh. Apalagi dengan tidak adanya sinar.
Hari ini saya bertemu dengan mahasiswa tingkat dua. Bukan di kampus tempat mahasiswa pada umumnya tetapi di depan tempat makan siap saji. Mahasiswa itu membawa bunga mawar untuk dijual, untuk mengumpulkan dana usaha kegiatan tepatnya. Saya keluar tempat makan dengan seorang teman dan langsung ditawari bunga. Si mahasiswa tingkat dua memperkenalkan maksud dan tujuannya, meminta kami membeli bunga dengan harga terserah. Ternyata dia satu kampus dengan saya, dia menyebut nama kampusnya. Teman saya ragu untuk menolak tetapi saya langsung menolaknya tanpa basa-basi. Beberapa meter setelah itu saya baru menyadari bahwa mengumpulkan dana untuk kegiatan itu sulit karena saya pun pernah berada di posisi mahasiswa tingkat dua tersebut.
Hari ini saya menonton acara Golden Ways Mario Teguh. Pada intinya beliau menyarankan kita untuk berbicara pada diri sendiri sebelum melakukan tindakan terhadap orang lain. Lalu beliau menjelaskan tentang logika dan rasa. Logika lalu rasa. Otak lalu perasaan lalu tindakan. Setelah itu saya jadi ingat seluruh kejadian hari ini. Andai acara Mario teguh itu adalah pagi hari sebelum saya memulai aktivitas akankah hari ini berbeda?
Selamat tinggal hari ini, besok sudah mulai hari baru. Semoga saya tidak telat berpikir lagi. hehe.
Lo.Gue.End
i’m sorry to say.. Lo, Gue, End.
Orang yang memopulerkan kalimat itu berhasil deh meracuni pikiran orang-orang untuk menggunakannya. Sederhana tapi kocak, apalagi setahu saya kata-kata itu diucapkan dengan sedikit mendayu-dayu disertai dengan gaya tubuh yang menggemaskan. Dan malam ini saya teracuni, oleh Pak Mario Teguh, oleh si Lo, Gue, End.
Hehe.. skripsi. maaf ya saya sangat berharap lo, gue, end!





mereka bilang..