Diary
November 12, 2011 at 12:29 pm 2 comments
Akhir-akhir ini agaknya sulit mencari waktu kosong untuk sekedar memikirkan kata-kata apa yang akan saya rangkai untuk ditulis di dalam blog. Ketika ada pun semuanya masih dalam bentuk mentah. Random sekali. Absurd sekali. Abstrak sekali. Gaib sekali. Jadinya blog ini tidak terurus dan hanya terisi oleh satu atau dua paragraf saja untuk mewakili memori yang ingin dibagikan.
Ditambah handphone saya tidak seperti dulu yang agak canggih, yang bisa memuat sms sampai beribu-ribu jumlahnya. Kali ini setiap sms sudah mencapai 200 buah, kotak masuk atau kotak keluar harus ada yang saya kosongkan. Laju sms masuk sama derasnya dengan laju sms keluar. Ingin saya meminta hp baru yang agak canggih (lagi) tapi masa iya, saya suda punya gelar yang belum bekerja, haruskah saya meminta? (nah loh berat kan ber-gelar tanpa bekerja itu). Dulu, setiap ada sms yang “harus disimpan”, saya menyimpannya dalam sebuah folder yang sewaktu-waktu dapat saya buka. Kini kata-kata penting bahkan sms cinta pun harus saya delete.
Maka dari itu, saya membeli sebuah buku. Buku diary, tepatnya. Dengan harga murah saya mencari buku yang semanis mungkin. Dapatlah suatu buku di togamas dengan harga 18.000. Walaupun minimalis tapi saya suka covernya. Ada 4 kotak kecil berisi gambar lucu. Menurut saya semuanya melambangkan cita-cita dan harapan.
Gambar pertama adalah sebuah bianglala. Saya artikan bahwa semua ada gilirannya. Pernahkah kalian naik bianglala? Waktu kecil saya beberapa kali pergi ke pasar malam, di sana ada bianglala, saya pernah menaikinya. Masih ingat, siklusnya adalah… naik, puncak, dan turun. Saya pernah merasakan diam di siklus-siklus tersebut ketika si bianglala ingin menaikkan atau menurunkan penumpang. Ada sensasi berbeda di masing-masing siklus. Saya tidak mau melihat ke bawah ketika “kotak yg saya duduki” sedang naik, saya tidak mau bergerak ketika saya kebetulan diam di puncak bianglala, dan saya senang melihat ke bawah ketika “kotak” saya turun. Semua ada gilirannya.
Gambar kedua adalah sepeda. Benda ini mengingatkan saya tentang jalan-jalan. Iya, saya senang jalan-jalan walaupun tidak ber-uang. Saya mengandaikan diri saya bisa menempuh beribu-ribuan kilo untuk jalan-jalan. Atau saya bisa mengandaikan kalau suatu saat nanti saya bisa memiliki sebuah Audi. Ah keren, cover diary ini sungguh keren.
Gambar berikutnya adalah sebuah amplop. Saya mengartikan amplop ini sebagai suatu pesan yang tidak dapat terkirim ke alamat yang tertulis di sampul depan amplop tersebut. Bukan karena alamat palsu, tapi ya memang tidak bisa dikirim. He. Isinya, tentu yang ingin saya sampaikan. Di dalam buku diary tersebut saya tulis. Mungkin suatu saat buku itu akan saya berikan ke orang yang alamatnya saya tuju. Sebagai saksi bisu (apa sih..)
Gambar keempat adalah langit. Siapa yang tahu berapa tinggi langit? siapa yang tahu berapa dalamnya laut? siapa yang tahu bagaimana perasaan seseorang? Cita-cita.. sampai langit. Harapan yang tiada batas.
Begitulah, saya akan menghiasi diary ini dengan kata-kata, alternatif saya atas tidak sempatnya saya menyambungkan komputer saya dengan koneksi internet yang kadang kurang bersahabat. Halo diary!
Entry filed under: Pengalaman, Uncategorized. Tags: buku diary, cerita, hidup, kehidupan.









1.
fitria_s | November 27, 2011 at 11:20 am
semoga rajin menulisss
2.
chandraaura | December 25, 2011 at 12:40 pm
Bagus banget diary nya…, bisaan nyarinya…