Posts tagged ‘belajar’
Ujian Terakhir
Kamis kemarin adalah ujian terakhir saya di kampus dalam menempuh pendidikan sarjana *amin*. Bagi sebagian orang, momen “terakhir” haruslah ditutup dengan manis, ada yang berusaha semaksimal mungkin untuk hasil yang baik. Namun ada sebagian orang lagi yang sudah kehabisan tenaga, mentang-mentang yang terakhir jadi berjalan santai dan sudah memikirkan kesenangan setelahnya karena “ini yang terakhir”, artinya terlepas sudah dengan sebagian tekanan batin dan tekanan pikiran (lebay). Saya ada di sebagian orang yang mana? dilihat dari panjangnya penjelasan sih kayaknya termasuk sebagian orang golongan kedua (hahaha… *tertawa sendiri).
Yah, memang kemarin saya agak malas belajar. Kemalasan ini saya sampaikan kepada salah seorang teman saya, sebut saja Bunga. Malam hari ketika saya sedang membaca slide kuliah sambil terkantuk-kantuk, kita berkirim sms:
Saya: Waduh gimana ini males belajar!
Bunga: Ya gak usah, gak ada yang maksa kok Pur! haha.. berani gak?
Saya: Tentu saja gak berani!
Bunga: Bagus-bagus.. belajarlah kau nak! Yang lebih pintar dari kita aja belajar, masa kita nggak!
Driving force yang seru!
Teman saya ini memang tepat memilih sasaran tembak. Sedikit demi sedikit saya mendapatkan suplai energi buat belajar. Walau pada akhirnya tetap saja saya tertidur di depan laptop -___-”.
Curhat: Dialog dan Monolog
Akhir-akhir ini saya sering melamun. Di kamar tidur. Di kamar mandi. Di atas motor. Dimana-mana. Dialog otak dan hati dimulai, bertanya-tanya, kira-kira kesempatan apa ya yang bisa membawa saya ke luar negeri? Haaa… sejak liburan semester kemarin saya iri. Iri to the max. Setiap buka situs jejaring sosial adaaaa aja teman yang curhat lagi di luar negeri. Ngerinya lagi yang bikin nambah iri adalah mereka ke sana bukan cuma buat jalan-jalan. Kalau buat jalan-jalan sih ya monggo wae kalo punya duit. Saya gak iri. Iri saya eksklusif. Saya cuma iri sama teman-teman yang mempunyai misi mulia menimba ilmu ke negeri seberang *kecups.
Kalau dipikir pake logika, ditimbang-timbang pake timbangan manusia, jauh banget keinginan saya ini terwujud. Apa? duit ga punya (belom punya ding), kompetisi apa pun yang bertaraf internasional ga pernah ikutan, organisasi internasional? ga, cuma member. Kemampuan? fisik? mental? bahasa?prestasi? kuliah? beasiswa? *mikir-mikir*Oh My God. Cemana. Miris banget sih keadaan gw. Jalan pintas? ngumpulin undian salah satu supermarket yang hadiahnya ke luar negeri *geleng-geleng*. Hiks. Dialog berlanjut. Hati bilang banyaklah berdoa, meminta agar jalan yang sulit dimudahkan, jalan yang tertutup dibukakan, dan jalan yang tidak mungkin dimungkinkan. Otak bilang mana mungkin terwujud kalo gak punya “m o d a l”? Zzzz! *hening*. Dialog terhenti, monolog dimulai.
Dialog antara otak dan perasaan membawa saya kepada monolog kamar. Mencari hubungan sebab-akibat. Menggiring kepada satu keadaan yang saya rindukan. Kontemplasi. Pertanyaan dilontarkan kembali, untuk kesekian kali.
Apa saja yang sudah saya lakukan selama 21 kali berevolusi?
Fardes!
Pengalaman menarik ketika kamu tinggal selama seminggu bersama orang-orang yang tidak kamu kenal, berusaha untuk bersikap ramah dengan tuan rumah, bekerja sama dengan teman serumah karena hidup ditemani kekurangan dan keterbatasan. Fardes, acara ini lah yang memperkenalkan saya pada itu semua.
Di sana saya mengalami susahnya buang air kecil karena tidak ada kamar mandi tertutup. Harus menunggu malam, atau menumpang ke rumah orang yang punya jamban sendiri walaupun tidak berpintu. Di sana saya mengalami bagaimana susahnya memasak dengan suluh, tidak menggunakan minyak tanah, meniup untuk memberikan oksigen bukan karbon dioksida, sehingga badan menjadi bau, tangan menjadi hitam, semua karena asap. Di sana saya mengalami jauhnya perjalanan untuk mendapatkan pengajaran di Sekolah Dasar. Jalan mendaki, menggunung, melewati lembah. Jauh! dan Adit, anak kecil yang tinggal di rumah yang saya tinggali, setiap hari bolak-balik menempuh perjalanan tersebut untuk sekolah.
Saya melihat bagaimana para bapak sengaja mengumpulkan daun kelapa kering (janur) untuk dilinting menjadi rokok. Saya juga melihat bagaimana setiap hari mereka makan dengan mie instan seperti layaknya makanan pokok. Saya melihat seorang anak yang muntah karena kami beri dia makan sarden, mungkin karena dia tidak biasa. Saya melihat banyaknya perhiasan yang mereka punya padahal kamar mandi tidak mereka punyai. Bahkan saya melihat santainya mereka mengobrol ini-itu tidak jelas setiap hari.
Warna-warni sebuah pedesaan.
Bersama dengan seratus orang teman melakukan kerja sama dengan para warga. Melakukan penyuluhan, mengadakan pelatihan di bidang kesehatan. Entah parameter materi tersampaikan atau tidak. Ada hal lain yang juga penting, seratus orang ini yang dibagi ke dalam 6 RW, penghuni masing-masing RW menjadi kenal, menjadi merasakan, menjadi berkeluarga. Kesusahan membuat saling bergantung. Menjadi ingin terus berbagi.
Thanks fardes, mungkin saya tidak bisa memberikan yang terbaik.
Jauhi Mencontek! (Kita Harus Belajar Bahwa Kita Harus Belajar)
“Students have to learn that they have to learn. Only doing what’s right will bring them a feeling of pride and accomplishment and create self-confidence—the building blocks for a successful and satisfying life and a society that keeps its values”
Saya agak kaget ketika ibu saya cerita bahwa anak temannya ibu saya yang mau masuk SMP tidak lolos masuk ke SMP *peeep* (cluster 1 tapi bukan SMP 2 dan 5 Bandung, hehe) karena nilainya kurang padahal rata-rata nilainya mencapai 9,5. Berarti kalau rata-rata 9,5 saja tidak masuk semua anak yang mendaftar (misal 360 anak) rata-rata nilainya hampir 10 dong? Waw sudah sepintar dan sehebat itu kah anak-anak Indonesia sekarang? Berarti 20 tahun ke depan Indonesia bisa lah ya jadi salah satu negara maju dan jadi peserta piala dunia :]
Ehm bukannya saya mau suudzon atau meng-underestimate-kan anak-anak Indonesia, pastinya banyak cerita dibalik kesempurnaan nili-nilai itu (ya iyalah jaman sekarang getoooh! everything is never as it seems), mungkin ada yang usahanya sangat keras: belajar sangat keras dan mati-matian sambil berdoa dan meminta restu orang tua; atau agak keras (udah termasuk kelakuan hitam nih): membaca cepat sambil mengeluarkan uang banyak untuk mendapatkan a/b/c/d/e, menulis ringkasan di kertas dan membeli hp baru karena ingin juga mendapatkan sms pada hari H; atau tidak keras: tidur semalaman kebablasan dan tidak belajar lalu akhirnya melakukan ‘full of academic dishonesty‘.
Well… Kalau ada yang bilang, songong lo..paling lo juga ngelakuin hal itu jaman dulu pur.. Hmm saya akan bilang ya kalau definisi dari mencotek (cheating) adalah sbb:
Cheating means getting unauthorized help on an assignment, quiz, or examination. (1) You must not receive from any other student or give to any other student any information, answers, or help during an exam. (2) You must not use unauthorized sources for answers during an exam. You must not take notes or books to the exam when such aids are forbidden, and you must not refer to any book or notes while you are taking the exam unless the instructor indicates it is an “open book” exam. (3) You must not obtain exam questions illegally before an exam or tamper with an exam after it has been corrected.
(taken from an article.html via internet)
Sejujurnya selama beberapa tahun ke belakang saya takut kalau meminta jawaban ke orang (definisi mencontek saya dulu meminta jawaban) makanya sebisa mungkin saya kerjakan sendiri. Nah kalau memberi jawaban ke orang, sering saya lakukan dan ternyata perbuatan ini juga termasuk academic dishonesty. Dan ini benar-benar salah. Kasian terhadap orang yang saya beri contekan karena dia akan menjadi tidak percaya diri. Ada yang menarik dari pernyataan salah seorang pengajar:
If students easily get away with it (academic dishonesty), they might be encouraged to do it again. They won’t realize that this—in the broadest sense—is an attack on our society, which is based on values like honesty and fairness. The present epidemic of cheating indicates a loss of those values and cannot be tolerated. An appropriate punishment for cheating incidents would be to make students aware of their misbehavior.
If no one were punished for cheating, who would ever study for an exam? Tons of papers would be lifted from websites, writing crib sheets would be more important than reviewing the subjects, and highly sophisticated cheating arts would be invented. Knowledge would only exist on the Internet and on cleverly created cheat sheets, but not in the minds of the students—a rather bad precondition to enrich our society wisely and intelligently.
- Dorothea Baerthlein, from Germany
Sebenarnya selain faktor ingin mendapatkan nilai bagus atau tekanan harus bernilai bagus (tekanan bisa datang dari siapa pun), banyak hal yang dapat menyebabkan seorang anak mencontek. Selain karena rasa integritas dan nilai moral anak yang menurun, bisa juga karena longgarnya peraturan, tidak adanya hukuman mencontek, ketidakpedulian pengajar sehingga semua murid dianggap berkemampuan sama, atau karena ketidaktahuan murid tentang ruang lingkup mencontek. Memang semua faktor ini tidak bisa dikontrol tetapi setidaknya dapat dilakukan pencegahan untuk mengurangi ketidakjujuran akademik ini, misal:
- Menginformasikan ruang lingkup/pengertian mencotek itu apa, mendiskusikan baik-buruknya hal itu, membiarkan murid berpikir dan membuat kesimpulan
- Menjelaskan kerugian mencontek dan bagaimana sanksinya
- Meminimalisasikan kesempatan mencontek, plagiat
- Mengambil tindakan nyata apabila terdeteksi sinyal-sinyal pencontekan, atau setidaknya mewanti-wanti dengan ucapan untuk tidak mencontek. Setidaknya murid tahu bahwa anda tidak mentolerir murid-murid yang mencontek dan mereka akans egan
- Jika mencontek telah terjadi lakukan tindakan cepat, beri hukuman sesuai aturan
Teori memang akan terlihat gampang, implementasinya bagaimana? tergantung kita yang berwenang. Saya benar-benar prihatin dengan keadaan ini. Wahai adik-adikku, imbasnya jika kalian mencontek mungkin tidak akan terasa apabila kalian masih berada dalam jenjang SD-SMA. Coba kalau kalian sudah masuk dunia perkuliahan, I*B pula, ke laut aja deh yang nyontek.
PROFESI IDAMAN *katanya*
sumber : Inspirasional Koran Kompas, 8 April 2010
Sepuluh tahun yang lalu, profesi seperti web desain, animator, hingga pengusaha voucher pulsa belumlah terpikirkan. Kini, profesi-profesi tersebut berkembang dengan pesat. pertanyaannya, profesi baru apa lagi yang akan tercipta di masa depan?
Banyak yang belum menyadari bahwa ada beberapa jurusan kuliah yang kurang diminati, padahal berprospek cerah di masa depan. Berikut adalah beberapa jurusan tersebut.
1. Desain
Berkat orang-orang yang kreatif dan jeli melihat peluang, berbagai macam profesi yang baru dapat tercipta. Ketika masuk ke dalam industri kreatif, semua aspek akan berkembang.
Di sini, orang-orang dari Desain dan Industri Kreatif dengan jurusan desain produk (desain industri) akan berperan besar. Melalui tangan-tangan merekalah desain-desain mobil, sepatu, hingga alat kesehatan dapat tercipta, sebab semua produk apa pun, sebelum menjadi bentuk, tentu membutuhkan proses desain terlebih dahulu.
2. Teknik
Biasanya, jurusan-jurusan yang mengarah menjadi karyawan kurang diminati. Sebab, semua ingin bercita-cita langsung menjadi bos. Imbasnya, teknik industri dan elektro pun agak kurang diminati. Padahal, selama ada perkembangan pembangunan di mana-mana, jurusan ini akan selalu dibutuhkan.
3. ICT
Jurusan Sistem Komputer memiliki prospek baik di masa depan, tetapi sayang peminatnya masih kurang karena dianggap sebagai ilmu yang sulit. Padahal jurusan ini tak terlalu sulit dan sangat menjanjikan karena mereka akan belajar mengembangkan hardware-hardware yang berkaitan dengan ICT (information, communication, and technology). Contohnya pada pengembangan gadget dan jaringan telekomunikasi.
Menariknya, lulusan jurusan ini pun akan memiliki ilmu software dan hardware. Alat-alat seperti akses control, finger print, merupakan hasil karya jurusan ini. Untuk di rumah, mereka dapat menciptakan sistem untuk mengendalk kan sistem keamanan, mengontrol penggunaan lampu, dan penggunaan AC dengan suhu otomatis. Pasar game pun membutuhkan lulusan jurusan ini.
4. Bahasa dan komunikasi
Para lulusan sastra memiliki banyak peluang untuk berkarir baik di perusahaan asing maupun instansi negara karena keahlian yang mereka miliki itu unik dan khas seperti di bidang penulisan buku, sebagai negosiator transaksi bisnis dengan pihak asing, ataupun staf konsulat di berbagai kedutaan besa r.
Demikian juga komunikasi dan hubungan internasional pun akan menjanjikan di masa depan. Apalagi dengan terbukanya perdagangan bebas dunia. Indonesia semakin membutuhkan ahli-ahli di bidang komunikasi.
5. Planologi
Karena sebagian besar orang akan hidup di daerah kota, perencanaan kota yang baik mutlak dibutuhkan. Di sini jurusan seperti Planologi akan sangat berguna dalam mengatasi masalah perkotaan dan lingkungan.
Apalagi, kini perumahan biasa/landed house semakin mahal harganya dan pasar akan beralih kepada apartemen. Proses pembangunan wajib mematuhi ketentuan pemerintah tentang tata ruang kota perencanaan kota yang baik. Di sinilah planologi memegang peranan penting di bidang untuk memberikan nasihat kepada pengembang dalam skala makro, serta berkonsentrasi kepada Real-Estat membidik potensi dunia properti nasional dan sangat menarik untuk dikembangkan.
6. Kesehatan dan Pendidikan
Peminat jurusan kesehatan akan semakin meningkat. Apalagi kecenderungan orang kini tak hanya butuh kesehatan, tetapi mereka butuh kualitas dari kesehatan. Oleh sebab itu, jurusan seperti Fisioterapil akan terus berkembang, demikian juga dengan Farmasi pun akan semakin maju dengan ilmu herbalnya. Dari segi pendidikan, profesi guru pun semakin menjanjikan. Apalagi bentuk-bentuk pendidikan yang khusus, misalnya menjadi pengajar anak penyandang autisme.
7. Bisnis
Bisnis dipercaya akan berkembang di masa depan. Apalagi melihat semangat kewirausahaan yang semakin tumbuh di Indonesia. Namun, tentu tak sembarang pebisnis yang dapat sukses. Pebisnis yang dapat menjadi agen perubahan akan berhasil di masa depan. Selain itu, mereka pun dapat melakukan hal yang strategic, integratif, dan bermoral luhur.
Beberapa profesi di atas merupakan sedikit gambaran sekaligus pembuktian bahwa tak selamanya jurusan yang kurang populer, tak berprospek. Sekarang, tinggal bagaimana caranya menjadi generasi yang memiliki ilmu unik dan tentu kreatif.
Banyak Cara Bertemu Darma
Biarkan aku bercerita tentang apa yang ku rasa sekarang, tentang waktu dan tentang dua hari ini. Benar kata peribahasa kuno bahwa waktu hanya milik orang-orang yang sibuk. Bagi mereka yang sibuk, waktu sama pentingnya dengan uang. Tidak anehlah mereka menyebut waktu adalah uang. Namun tidak sesederhana itu, setiap detik yang terlewati ada keringat yang harus dibayar dan ada darma-darma yang dikumpulkan untuk bekal keberuntungan. Apa sebenarnya yang disibukkan oleh mereka? Orang sibuk adalah seorang pemimpi. Mereka hidup dalam dua waktu, waktu malam mereka menyusun mimpi dan waktu siang mereka mewujudkan mimpinya. Mimpi lah yang membuat mereka sibuk.
Lalu di sini ada diriku. Dalam dua hari ini aku membiarkan waktu berjalan, setiap detik kuhabiskan dengan ketentraman, kedamaian, tanpa paksaan. Ketentraman untuk tidak melihat kesusahan orang lain, kedamaian untuk tidak melihat kekacauan di jalan raya, dan tanpa paksaan untuk tidak secara keras belajar mati-matian memperjuangkan nasib semester ini.
Sesungguhnya sibuk dan tidak sibuk sama saja memerlukan energi tinggi. Siapa yang tahan tidak melakukan apapun seharian? Hanya orang-orang tertentu yang bisa mempertahankan sikap bertahan untuk tidak melakukan sesuatu.
Itulah pikiran pertama yang aku rasakan dua hari ini. Rugi. Benarkah?
Seperti kata peribahasa kuno juga, darma-darma itu ada dimana-mana. Satu hari sebelumnya aku berpikir akan menghabiskan waktu esok hari di luar rumah karena lama-lama aku bosan tetapi niat kuurungkan. Hasilnya selama dua hari ini aku berada di rumah. Dan lagi-lagi aku tidak sibuk. Menyesal? tentu tidak.
Karena kalau sekarang aku di luar rumah lalu…..
Siapa yang menyapu rumah dan halaman?
Siapa yang mencuci piring?
Siapa yang menggosok kamar mandi belakang sampai bersih?
Siapa yang membuatkan minuman untuk tamu yang lama tak bersua?
Siapa yang menemani ibu berbincang di rumah?
Hal yang sangat jarang aku lakukan
Keberadaanku di rumah dalam dua hari ini juga menggembirakan orang yang berkunjung ke rumah (maybe). Yak karena akhirnya mereka bisa bersilaturahmi denganku.
Banyak pertanyaan untukku….
Tumben ada di rumah/ Gak kemana-mana/ Kok gak kuliah/ Biasanya kan tanggal merah juga gak ada di rumah/ Udah semester berapa sekarang?/ Tinggal berapa tahun lagi Mbak?/ Udah punya pacar belom?/ bla…bla…bla…
Itulah. Dalam dua hari ini aku merasa waktu bukan cuma berarti uang tetapi waktu juga merupakan kesempatan untuk mengumpulkan darma-darma.Tergantung kreativitasmu. Dengan demikian rugi kah diriku dalam dua hari ini? Pikiran berikutnya menjawab: Tidak sepenuhnya
I need to cry
Saya butuh menangis. Serius. Menangis membuat saya fokus. Tadi ketika melihat tulisan di depan kamar, saya hampir menangis tapi tidak jadi karena perhatian teralihkan ke layar hp. Lalu ketika shalat Maghrib saya juga hampir menangis tapi tidak jadi lagi (bahkan saya shalat tidak khusyuk) karena teringat laporan farkog. Kemudian setelah shalat, saya hampir menangis tapi lagi-lagi tidak jadi karena teralihkan ke layar laptop. Menangis yang sebenar-benarnya juga butuh tekad yang kuat.
Teringat masa kecil, ketika menghafal Juz ‘Amma. Saya tidak akan hafal kalau saya tidak menangis terlebuh dahulu. Menangis karena hampir putus asa tidak hafal-hafal tetapi pada akhirnya malah saya jadi bisa menghafal dengan lancar. Kalau demikian minggu depan saya akan ujian, apakah saya juga harus menangis supaya saya bisa? tidak, karena itu tidak masuk akal.
Maaf kali ini bahasa yang saya pakai nggak banget, sok-sok puitis tapi karena saya ingin.
Menangis mengeluarkan air mata serasa mengeluarkan seluruh penat di dalam dada
Alasannya adalah jiwa ini
Hal apa yang lebih menyedihkan selain mengingat kekeliruan diri sendiri?
Malu pada-Nya sebelum dibeberkan kepada seluruh manusia
Misi untuk menangis belum terlaksana, moga sebelum minggu depan saya sudah bisa menangis karena diri sendiri. Lindungilah dan cukupkanlah rezeki bagi orang-orang di sekitar saya Yaa Rabb, saya tidak ingin menangis karena mereka.
***
Selepas kuliah saya hampir menangis. Kemarin malam sambil menonton Mario Teguh, di papan tulis depan kamar, saya menulis:
Jika semua tidak pasti berarti semua mungkin
kecuali membangun hukum sebab akibat
Ketika saya pulang kalimatnya bertambah:
Yang pasti adalah kita harus memilih apa yang kita lakukan
Dan yang kita lakukan adalah sebab bukan akibat
Tulisan yang familiar. By my father.
Saponin Menyebabkan Kematian Ikan
Kenapa disebut ikan seribu?
Karena…
- melahirkan banyak burayak (anak ikan) antara 2-100 ekor
- Burayak mencapai kedewasaan pada umur satu atau dua bulan saja dan bisa langsung kawin lalu melipatgandakan populasinya
- Ikan betinanya memiliki kemampuan untuk untuk menyimpan sperma, sehingga dapat hamil berulang kali dengan hanya satu kali kawin.
- Kemampuannya untuk menyesuaikan hidup dengan pelbagai kondisi perairan
Tetapi…
Hati-hati dengan limbah yang mengandung saponin (yang menghasilkan busa seperti sabun) karena akan mengurangi populasi mereka (red. ikan). Ikan-ikan dan termasuk millionfish tidak akan mampu bertahan di lingkungan yang bersaponin lalu kematian akan terjadi. Kematian akibat saponin ini ditandai dengan insang ikan yang menjadi berwarna merah dan membengkak.
So…
Let’s save our nature!
Kamu ya Kamu
Pada suatu hari….
Ayah menjemput saya di kampus
Padahal si Beat udah hampir sebulan resmi jadian sama saya
Dan mengantar-jemput saya dengan selamat
“Kalau ada apa-apa di jalan gimana?”, Beliau khawatir
Ibu sangat khawatir anaknya pingsan
Beliau menyuapi nasi telur ke mulut saya
Padahal sudah setengah tujuh dan hari ini adalah hari Rabu, Bu. Rabu!
“Kamu gak akan inget makan kalo gak diginiin”, Beliau cemas
Angkatan 2006 sedang hectic bikin tugas akhir
Tiga hari ke depan adalah tanggal merah
Status facebook mereka menyiratkan kegembiraan karena akhirnya bisa berlibur
Untung masih angkatan 2007, saya pikir
Saya masih muda ya?
Tapi….
Semoga jadi anak yang shalehah
Berguna bagi keluarga, nusa, bangsa dan agama
Sudah waktunya
Adek-adekmu jangan lupa diajari
Kok jadi merasa tua ya?
Diatas langit ada langit
Dibawah atap ada tembok
Diantara tembok dan langit ada kamu
Tembok bisa ditembus, tapi kamu akan berbalik arah
Langit bisa diraih terus, karena kamu menuju ke sana
Mengerti?
Berapa umurmu sekarang?
20 tahun, saya jawab
Kamu tahu apa yang harus dilakukan oleh manusia 20 tahun?
seharusnya tahu, saya jawab
Lho?
hmm *biarkan saya memikirkan jawabannya*
Sederhana
Resah
Tiba-tiba rekaman kamu diputar di otak saya
Kenapa harus datang sekarang? saya kan masih ingin belajar
Dalam hati saya menggerutu, penting banget sih
Dan.. Memang mau alasan apa pun kamu adalah penting, saya kalah deh
Bimbang memilih
Sekarang saya bimbang kan
Dengan kamu saya belajar dan dengan dia pun saya belajar
………….
Lanjutkan tidak?
Apa dengan kamu lebih cepat bisa lebih baik?
hmm berpikir!
dan baiklah, keputusan saya adalah……
saya mau belajar dengan dia dulu
Kamu yang sabar yaa
Jangan marah atau cemberut
Karena nanti saya bisa menangis
Kamar, inspired from Adenita,
31 Maret 2010






mereka bilang..