Posts tagged ‘ibu’
Sepupu Baru
Sazkia Auliya Ramadhani
Sazkia, jika kata ini diambil dari kata zakiya Bahasa Hebrew maka kata ini berarti – God’s purity – atau kebersihan, kesucian tuhan. Jika diambil dari kata zakiya Bahasa Swahili artinya adalah cerdas. Jika diambil dari kata saskia maka asal bahasanya adalah belanda dan artinya adalah “saxon woman”. Tapi lebih dari semua makna itu, Sazkia diambil dari ketiga nama kakanya, Salma artinya selamat, sejahtera; Zaki artinya cerdik, harum, suci; dan Aqilah artinya baik, mulia. Dengan demikian Sazkia adalah sebuah doa untuk nikmat keselamatan, kesejahteraan, cerdik, harum, suci supaya menjadi pribadi yang baik dan mulia. Amin Ya Robbal’alamiin.
Semoga menjadi anak yang shalehah ya dek..
Happy Birthday my mom
Happy Birthday Mom..
May Allah always protect you anywhere and anytime you are
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Ya Allah Ya Ghaffar.. ampunilah dosa kedua ibu bapakku dan lindungilah mereka seperti mereka melindungiku pada saat aku kecil
Ya Allah Ya Rahman Ya Rahiim berikanlah kekuatan bagi mereka untuk segala kesusahan, ringankanlah beban mereka, limpahkanlah kesabaran bagi mereka dan mudahkanlah urusan mereka
Ya Allah bimbinglah kami untuk menjadi penolong bagi mereka, menjadi cahaya di tengah kegelapan
Ya Allah jadikanlah keluarga kami keluarga yang saleh, yang selalu berada di dalam naungan-Mu
Hanya kepadamu lah kami memohon dan meminta pertolongan
Tautkanlah hati kami hanya kepadamu, Ya Allah…
Ya Allah, lindungilah ibu bapak kami dimanapun mereka berada
Engkau sebaik-baiknya pelindung bagi kami
Allahumma Rabbana Aatina Fid Duniya Hasanataw Wafil Akhirati Hasanataw Wa Qina Azaaban Naar
Amin Ya Robbal ‘alamin
Kasih ibu sepanjang jalan…
Baru dua hari ibu gak ada di rumah tapi tetap kerasa ada yang berbeda ketika beliau gak ada di sekitar kami. Beliau pergi menunaikan tugasnya sebagai seorang guru. Bukan dalam rangka mengajar tetapi menuntut ilmu sebagai seorang pengajar. Rencananya tiga hari dua malam ibu di luar rumah, InsyaAllah besok kembali ke rumah. Mudah-mudahan Engkau selalu melindunginya dimanapun dia berada..
Jadi ingat, 24 jam sebelum beliau pergi aku tiba-tiba jatuh sakit. Pulang kuliah kepalaku terasa berat. Hmmm..mungkin karena efek belum keramas, pikirku.. tapi ternyata tidak, lama-lama sakit ini semakin menjadi. Akhirnya sebelum ibuku pulang aku memutuskan untuk sedikit makan lalu minum obat. Ibuku pulang dari sekolah tempatnya mengajar sesaat sebelum aku minum obat. Awalnya ibuku menyarankan untuk minum obat yang ada indikasi flu nya tetapi ternyata tidak ada, akhirnya aku minum paracetamol saja. Lumayan…efeknya cukup baik. Aku langsung tidur dan keringat sangat membanjiriku. Di tengah-tengah tidur aku masih merasakan belaian tangan ibuku yang meraba dahiku dan mengolesi lotion antinyamuk *aku tertidur di sofa dan memang banyak nyamuk*
Tengah malam sekitar pukul 22.43 WIB aku terbangun. Alhamdulillah sakit kepalaku sudah agak mendingan. Aku pergi ke kamar mandi karena aku belum shalat Isya *bahkan..shalat Maghrib pun terlewat* Pada saat itu tubuhku belum sepenuhnya sehat, kali ini kesakitan itu bertamu ke arah perut melewati kerongkongan. Yaa..saliva ku terasa pahit, ketika masuk kerongkongan terasa asam dan penghuni-penghuni perutku riuh. Aku memutuskan untuk tidur (lagi). Ibuku kembali berperan. Beliau menawarkan untuk membaluri tubuhku dengan obat gosok. Badanku hangat. Namun belum merasa baik. Aku ditinggal sendirian di kamar. Ibuku ke kamar mandi. Aku tidak bisa tidur. Ibuku membawa ember berisi sedikit air. Aku mencoba memejamkan mata. Beliau bilang..jaga-jaga kalau batuk *padahal aku tahu..itu jaga-jaga kalau aku muntah*.
Sepuluh menit aku mencoba untuk tidur dan tetap tidak bisa. Aku memanggil ibuku. Panggilan pertama, ibuku tidak menjawab. Panggilan kedua, ibuku tidak menjawab lagi. Panggilan ketiga, ibuku tetap tidak menjawab. Ayahku yang menjawab… sedang shalat. Oh..aku memutuskan untuk tidak memanggilnya lagi. Setelah beberapa menit ibuku datang dan bertanya ada apa. “Tolong buatin teh mah, atau ingin makan sedikit nasi”, aku bilang. Ibuku bilang, “Makan kue mari aja ya..”. Aku mengiyakan. Akhirnya ibu membawa kue mari. Ibuku sedikit bertanya.. di kampus suka makan gak? bawa kue mari aja buat ngemil, jangan dibiasakan gak makan, makan itu nasi..bukan bala-bala *hehe..ibu gak tau aja kalau anaknya tukang jajan*
Baru aku mencium aroma kue mari tiba-tiba…… euuum.. Hoek..uhuk!..hoek! aku muntah…
Aku langsung mengarahkan tubuhku ke ember yang sebelumnya disiapkan ibu. Tuh kaan… aku bilang buat muntahan.. Ibu memijit tengkuk leherku. Ayoo keluarin semuanya, biar penyakitnya keluar… Ibuku menyemangatiku.
Esok paginya aku bangun dengan badan yang kembali ringan. Tidak ada sakit kepala tidak ada riuh di perut. Semua karena Engkau yang telah mengirim wanita siap siaga seperti ibuku. Terima kasih Ya Allah.
Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa ayah ibuku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu aku masih kecil
Ibu.. maafkanlah anakmu ini yang sering membuatmu lelah. Terkadang membuatmu bingung akan sikap diri yang pemberontak namun kadang pendiam. Di dalam hatimu pasti engkau bertanya-tanya ada apa dengan anakku? Aku baik-baik saja, bu. Asalkan engkau ada di sampingku.
Di saat aku terjatuh, engkaulah orang pertama yang mengangkatku. Di dalam diam, engkau berdoa untukku. Kebahagiaanku adalah kebahagiaanmu.
Ya Allah…jagalah dia..ampunilah dia..sayangilah dia..




mereka bilang..