Posts tagged ‘kasih’

Untuk Orang-Orang yang Kurindukan

Ketika matahari terbit, ia adalah milik semua orang. Sampaikan pada matahari pagi untuk melindungi tulangnya yang keropos. Katanya matahari juga berteman dengan angin, kalau begitu sampaikan juga pada angin untuk mengirimkan salam rindu pada kulitnya, sehingga bulu kuduknya merinding, membalas salamku dengan ridhonya.

Hujan datang seiring dengan ingatanku kepadamu. Kucurahkan, sampai terbentuk pelangi. Setelah itu aku harus kuat. Kan kutenun lagi menjadi awan. Bertemu matahari untuk mu.

Semoga di sana kau sehat selalu.

Bandung, 14 May 2010

May 14, 2010 at 10:49 am 1 comment

naive

Oh ternyata begini  rasanya berkomunikasi dengan banyak orang dalam satu waktu dan tempat dengan tanpa memilih-milih siapa yang harus didahulukan karena semua orang adalah penting. Oh begini rasanya ditolak ketika berniat tulus memberi. Oh begini rasanya harapan dihancurkan oleh satu respon panca indera. Sangat sayang-disayangkan, kesadaran datang di akhir waktu.

Seseorang berkata setiap hari ibarat lembaran dari sebuah buku. Ada cerita menarik yang dijalani, hikmah yang dapat digali, pengalaman  yang bisa dibagikan.  Dan hidup sangat fluktuatif!

jika hidup terus berputar, biarlah berputar
akan ada harapan sekali lagi, seperti dulu (Sheila on 7)

January 8, 2010 at 5:50 pm Leave a comment

My perfect date..

Anyway..

My perfect date is walking together in this place 10 years later.

yesterday, now, and tomorrow

I walk this place beside you, through joy and sorrow
And you help me find a self that’s true, a light to follow
I can see the joy that we will find
Tomorrow… with you… beside me…
I will remember you…

I’ll remember you…

December 18, 2009 at 6:02 am 11 comments

Tunawisma di Jalan Rumah Sakit

Hujan-hujan enaknya diem di rumah. Selimutan sambil minum kopi atau susu. Dengerin lagu kesukaan. Kalau mati lampu enaknya ambil satu buku non humor, bermelow ria, terbawa emosi dari si tokoh…“Dua jam lalu sosok nyata dan abstrak bersamaku dan kini sang nyata pergi. Dia membekas. Aku  menatap jejak-jejak langkahnya yang akan menghilang, menghirup sisa wangi tubuhnya yang  berevaporasi ke awan bersama bakal air hujan yang akan berkondensasi ke bumi sebentar lagi. Mendung.  Aku tidak suka basah, aku tidak suka hujan. Tapi demi menghirup wanginya lagi aku rela menunggu sesuatu yang aku benci. tiga jam, empat jam..aku sudah memastikan kedatangannya lewat ramalan cuaca. Percaya kah..hujan tidak membawanya kembali. Wanginya hilang ditelan oleh waktu”

Hwoooo… Apa ya yang ada di pikiran bapak itu sekarang? Nyaman kah?

Seseorang yang hidup di atas tanah di bawah langit tidak dibatasi tembok atau tripleks. Sehabis lebaran lalu aku melihatnya di pinggir Jalan Rumah Sakit. Kemarin aku melihatnya dengan sangat dekat. Di tengah rintikkan hujan, pekatnya malam, di tengah sawah pinggir jalan raya. Kotor, basah…aku teringat cacing dan nyamuk juga kodok yang berirama.

Aku bersyukur aku berani bertemu dengannya. Untung. Kalau tidak aku akan menyesal seumur hidup. Aku membuka tasku dan berkata padanya.. “Pak..buat makan malam”. Dia kaget, tidak berekspresi, pandangan kosong, menerimanya tanpa berkata apa-apa dan tubuhnya sedang sakit. Aku yakin.

Sesudah itu aku berpikir. Mungkin bukan untuk makan malamnya karena dia sudah tidak kenal istilah itu. Mungkin jatahnya untuk hari ini atau dua hari ini atau tiga hari ini. Atau untuk beberapa hari kemudian.

Tuhan masih sayang padanya. Dia bertahan beberapa bulan ini tanpa rumah. Di saat hujan apa yang Bapak pikirkan?

Semoga Tuhan selalu menjagamu..

November 23, 2009 at 5:15 am Leave a comment

Kasih ibu sepanjang jalan…

Baru dua hari ibu gak ada di rumah tapi tetap kerasa ada yang berbeda ketika beliau gak ada di sekitar kami. Beliau pergi menunaikan tugasnya sebagai seorang guru. Bukan dalam rangka mengajar tetapi menuntut ilmu sebagai seorang pengajar. Rencananya tiga hari dua malam ibu di luar rumah, InsyaAllah besok kembali ke rumah. Mudah-mudahan Engkau selalu melindunginya dimanapun dia berada..

Jadi ingat, 24 jam sebelum beliau pergi aku tiba-tiba jatuh sakit. Pulang kuliah kepalaku terasa berat. Hmmm..mungkin karena efek belum keramas, pikirku.. tapi ternyata tidak, lama-lama sakit ini semakin menjadi. Akhirnya sebelum ibuku pulang aku memutuskan untuk sedikit makan lalu minum obat. Ibuku pulang dari sekolah tempatnya mengajar sesaat sebelum aku minum obat. Awalnya ibuku menyarankan untuk minum obat yang ada indikasi flu nya tetapi ternyata tidak ada, akhirnya aku minum paracetamol saja. Lumayan…efeknya cukup baik. Aku langsung tidur dan keringat sangat membanjiriku. Di tengah-tengah tidur aku masih merasakan belaian tangan ibuku yang meraba dahiku dan mengolesi lotion antinyamuk *aku tertidur di sofa dan memang banyak nyamuk*

Tengah malam sekitar pukul 22.43 WIB aku terbangun. Alhamdulillah sakit kepalaku sudah agak mendingan. Aku pergi ke kamar mandi karena aku belum shalat Isya *bahkan..shalat Maghrib pun terlewat* Pada saat itu tubuhku belum sepenuhnya sehat, kali ini kesakitan itu bertamu ke arah perut melewati kerongkongan. Yaa..saliva ku terasa pahit, ketika masuk kerongkongan terasa asam dan penghuni-penghuni perutku riuh. Aku memutuskan untuk tidur (lagi). Ibuku kembali berperan. Beliau menawarkan untuk membaluri tubuhku dengan obat gosok. Badanku hangat. Namun belum merasa baik. Aku ditinggal sendirian di kamar. Ibuku ke kamar mandi. Aku tidak bisa tidur. Ibuku membawa ember berisi sedikit air. Aku mencoba memejamkan mata. Beliau bilang..jaga-jaga kalau batuk *padahal aku tahu..itu jaga-jaga kalau aku muntah*.

Sepuluh menit aku mencoba untuk tidur dan tetap tidak bisa. Aku memanggil ibuku. Panggilan pertama, ibuku tidak menjawab. Panggilan kedua, ibuku tidak menjawab lagi. Panggilan ketiga, ibuku tetap tidak menjawab. Ayahku yang menjawab… sedang shalat. Oh..aku memutuskan untuk tidak memanggilnya lagi. Setelah beberapa menit ibuku datang dan bertanya ada apa. “Tolong buatin teh mah, atau ingin makan sedikit nasi”, aku bilang. Ibuku bilang, “Makan kue mari aja ya..”. Aku mengiyakan. Akhirnya ibu membawa kue mari. Ibuku sedikit bertanya.. di kampus suka makan gak? bawa kue mari aja buat ngemil, jangan dibiasakan gak makan, makan itu nasi..bukan bala-bala *hehe..ibu gak tau aja kalau anaknya tukang jajan*

Baru aku mencium aroma kue mari tiba-tiba…… euuum.. Hoek..uhuk!..hoek! aku muntah…

Aku langsung mengarahkan tubuhku ke ember yang sebelumnya disiapkan ibu. Tuh kaan… aku bilang buat muntahan..  Ibu memijit tengkuk leherku. Ayoo keluarin semuanya, biar penyakitnya keluar… Ibuku menyemangatiku.

Esok paginya aku bangun dengan badan yang kembali ringan. Tidak ada sakit kepala tidak ada riuh di perut. Semua karena Engkau yang telah mengirim wanita siap siaga seperti ibuku. Terima kasih Ya Allah.

Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa ayah ibuku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu aku masih kecil

Ibu.. maafkanlah anakmu ini yang sering membuatmu lelah. Terkadang membuatmu bingung akan sikap diri yang pemberontak namun kadang pendiam. Di dalam hatimu pasti engkau bertanya-tanya ada apa dengan anakku? Aku baik-baik saja, bu. Asalkan engkau ada di sampingku.

Di saat aku terjatuh, engkaulah orang pertama yang mengangkatku. Di dalam diam, engkau berdoa untukku. Kebahagiaanku adalah kebahagiaanmu.

Ya Allah…jagalah dia..ampunilah dia..sayangilah dia..

Ya Allah,, bila magfirah-Mu telah mencapai mereka sebelumku, izinkanlah mereka memberi syafa’at untukku.
Tetapi jika sebaliknya, maka izinkanlah aku memberi syafa’at untuk mereka, sehingga kami semua berkumpul bersama dengan santunan-Mu di tempat kediaman yang dinaungi kemulian-Mu,ampunan-Mu serta rahmat-Mu……….
Sesungguhnya Engkaulah yang memiliki KurniaMaha Agung,
serta anugerah yang tak berakhir dan
Engkaulahyang Maha Pengasih diantara semua pengasih.
Amin Ya Rabbul Alamin..

November 7, 2009 at 9:47 am 1 comment

Semua atas karunia-Mu

Motivasi dan penyemangat bisa datang dari mana saja. Memang motivasi terbesar dan termutlak adalah dari dalam diri. Tetapi kadang saat diri unstable, motivasi diperlukan dari berbagai arah sehingga ketika motivasi dari sumber pertama masuk telinga kanan lalu keluar telinga kiri… masih ada motivasi dari arah lain yang menjaganya. Ibaratnya dosis regimen pada obat, untuk mempertahankan fungsi obat agar tetap berada dalam daerah terapi.

Kali ini aku mengarsipkan perkataan sahabat SMA ku. Yah… sahabat adalah salah satu motivasiku juga. Semua hal yang dilakukan menjadi lebih berwarna karena ada mereka. Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan aku sahabat-sahabat yang baik. Semoga aku pun bisa menjadi sahabat yang baik bagi mereka.

Dari: Azmi Ajeng Ayunastity

Untuk: Purwa Kurniasari dan sahabat

Jika aku diberikan kesempatan untuk bisa hidup sekali lagi
Izinkan aku untuk berucap
Bukan kufur nikmat, namun ini caraku untuk bersyukur

Ku ingin kalian yang sekali lagi menemaniku untuk melangkah dalam barisan ini
Kalian mengajariku untuk melihat bahwa hidup ini penuh warna
Mengajariku cara mendengar suara hati dari tempat tertinggi
Karena suara indah terbentuk dari perbedaan sopran,alto, tenor dan bass yg menyatu
Mengajariku cara menapaki kehidupan, cinta, dan air mata

Terima kasih untuk kalian sahabatku, murrabi-murrabiah ku
Pendahuluku yg mengajarkan bagaimana cara berjuang dgn visi dan konsep yg jelas
Teman seperjuangan yang mengajarkan arti berdiri dan berlari
Berjanji untuk mengabdi dalam perjuangan ini
Generasi penerus yg membuat langkah menjadi lebih terpacu

Jika suatu saat kalian menemukanku dalam keadaan terkapar ataupun terluka parah
Ringkih, dan lirih kupinta jangan palingkan wajah kalian
Ataupun menganggapku tidak ada dan tidak pernah ada
Tetapi ku pinta raihlah tanganku
Dan bantu aku untuk berdiri dan melangkah satu kali lagi, lagi dan lagi
Menjadi penopang di saat ku tumbang
Menjadi sandaran ketika ku butuh kekuatan

Jika kau temukan ku dalam keadaan sengsara dan merana
Jangan memaksaku untuk mundur dari barisan jihad ini
Jangan memintaku untuk keluar dari perjuangan ini

Kuingin kalianlah yang mendampingiku sekali lagi menapaki perjuangan ini
Jika ku diberi kesempatan untuk bertemu dengan pangeranku
Ku pinta kalianlah yg mjd saksi perjanjian besar itu
Jika ku diberi kesempatan utk melahirkan jundi-jundi kecil
Izinkan aku untuk meminjam salah satu nama dari kalian untuk melngkapi deretan panggilan mereka

Semua ini sebagai rasa takzim dan takjub karena Allah memberikan orang2 terbaik untukku
Jika nafas ini berakhir, kuingin kalianlah yg mengiringi kepergianku ke tempat terakhirku
Untuk suatu hari nanti kita dipertemukan lagi dalam firdausNya

Jika naruto punya sakura, sasuke dan kakashi
Harry memiliki hermione dan ron
Ali mendapati umar, usman
Dan aku diberi kesempatan bertemu dan memiliki kalian

Kuatkanlah ikatan kami, kokohkanlah barisan ini

friendship__by_spadaj

Bandung, 5 November 2009

November 5, 2009 at 11:45 pm Leave a comment


Kan ku ingat

May 2012
M T W T F S S
« Feb    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Memori saya

Categories

Tranquilanzia's Flickr

Merak

Bapak

Istirahat

More Photos

mereka bilang..

Purwa Sari on Efek Samping Kawat Gigi
Purwa Sari on Efek Samping Kawat Gigi
iman on Efek Samping Kawat Gigi
dicka on Efek Samping Kawat Gigi
Purwa Sari on Makna 19-08-1989
Purwa Sari on Tugas Akhir Saya
Purwa Sari on Progress Bermain Biola
Purwa Sari on Progress Bermain Biola
bima007 on Tugas Akhir Saya
rahayu on Makna 19-08-1989

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.