Posts tagged ‘menulis’
Karena Bingung Jadi…
Put your hand on a hot stove for a minute, and it seems like an hour. Sit with a pretty girl for an hour, and it seems like a minute. THAT’S relativity.
Quote-nya asik, tapi gak seasik yang ada di pikiran aku sekarang. Haha. Berharap bisa menghasilkan 4 postingan (cerita dari tanggal 1-4 Juli) buat rencana nulis selama sebulan ini eh malah bengong berjam-jam di depan laptop. ah nihil!
Karena bingung bagaimana harus mengembangkan sebuah paragraf (fyi, padahal aku tau inti cerita yang mau aku tulis apa) jadilah aku hanya menulis quote di atas. Quote-nya seru! tapi… lagi-lagi speechless, aku gak bisa mengembangkan tulisan ini. Hellppp!
Fiuh.. How pity I am!
Kalimat Berjiwa
“Kalimat yang tak berjiwa”
Siapa bilang kata-kata indah dan bernyawa cuma ada di puisi-puisi atau cerita-cerita prosa? Bahkan di dalam tugas akhir pun berlaku yang namanya ‘kalimat tak berjiwa’. Dalam kotak pikiran saya, sederhananya kalimat berjiwa itu tercermin pada puisi-puisi orang yang sedang jatuh cinta. Entah dimana saya pernah mendengar kalimat ini, orang yang paling pandai merangkai kata adalah orang yang sedang jatuh cinta. Kalimat berjiwa hadir di tengah-tengah orang yang jatuh cinta. Di sederetan kata-kata gombal terselip satu inti yang bermakna. Oleh karena itu, dosen pembimbing saya berkali-kali bertanya, “Benar sudah jatuh cinta dengan sukun?”
Alhamdulillah saya dikelilingi orang-orang hebat yang bisa membangkitkan semangat saya. Termasuk ibu dosen pembimbing saya. Beliau membimbing saya tahap per tahap. Ketika beliau bertanya sesuatu, tidak serta merta beliau mengiyakan jawaban saya tetapi beliau bertanya kembali. Beliau terus bertanya kenapa pada proses itu ditambah ini, ada itu, dll. Semua ditanyakan karena beliau ingin saya mengerti dan menghasilkan kalimat-kalimat yang bernyawa nanti. Sampai pada akhirnya beliau berkata bahwa tugas akhir itu memang berat. Saya agak gemetar, tapi berat bukan berarti tidak bisa kan? Bisa, tentu bisa kalau dijalani dengan semangat dan sungguh-sungguh.yeaaah good point!
Di tengah-tengah pembicaraan tentang tugas akhir yang saya ambil, terkadang dosen pembimbing saya ini bercerita tentang apa-apa yang sedang dan pernah dijalaninya. Berawal dari kesalahan saya mengucapkan satu kata Bahasa Perancis “Charaux-Paris” (oh my God, ngasal banget deh pronounciation-nya. Kalo ada orang lain yang ngerti Bahasa Perancis mungkin bakal ketawa ngakak atau mengerutkan alis, maneh ngomong apa pur? ;p) kemarin beliau bercerita tentang bagaimana ketika muda dulu beliau mengikuti berbagai kursus bahasa: perancis, jerman, jepang. Lalu beliau berpendapat bahwa bahasa jerman adalah bahasa tersulit yang pernah dipelajari pada saat itu. Itu semua beliau pilih karena beliau tidak ingin melewatkan moment, memorable moment. Moment yang dalam Bahasa Indonesia berarti saat, waktu. Waktu muda, saat masih segar bugar, dimana pergerakan masih tinggi-tingginya, dan masa-masa menabung sebanyak-banyaknya, beliau bilang. Sekali saja melewatkan moment ya sudah berarti Anda telah melewatkan satu kesempatan yang bermanfaat, beliau bilang lagi. Berhenti sampai di situ kah beliau belajar bahasa? tidak! Karena pada akhirnya beliau menambahkan, ternyata bahasa yang paling sulit itu adalah Bahasa Arab. Dari pernyataan terakhir beliau ini saya berkesimpulan, moment itu selalu ada ketika kita memilihnya. Moment adalah pilihan.
I know it’s all up to me, it’s all up to me
So what am I gonna do with my time?
I’ll take every moment, I know that I own them
It’s all up to you to do whatever you choose
Live like you’re dying and never stop trying
It’s all you can do, use what’s been given to you_Lenka
Dosen pembimbing saya mencintai apapun yang telah dan sedang beliau kerjakan. Lalu beliau ceritakan pada saya. Karena beliau menceritakan apa yang beliau cintai maka meluncur lah kata-kata yang bernyawa. Entah mengapa dari cerita-ceritanya itu terselip pesan tersirat yang diam-diam menyentuh ruang hati saya. Apakah pesannya dengan ini saya tertarik belajar bahasa? hmm ya. apapun. tapi itulah, saya bersyukur berada di tengah-tengah orang yang bisa membangkitkan semangat saya.
Terima kasih Ibu, saya menunggu cerita-cerita lainnya lagi
About books, music and laptop
Books. Music. Laptop.
Three things that I love more but I don’t know them more. When you asked me what kind of music or books that I love maybe I couldn’t tell you more what they are. Basically I read all kind of books and listen many genre of music, but I’m not as fanatic as them on a music or books.
Actually I was amazed by everyone who has special knowledge about music and books. It’s not praise but more than just a praise.
Book.
“If you want your children to be intelligent, read them fairy tales. If you want them to be more intelligent, read them more fairy tales.” (Albert Einstein)
Although only a fairy tale does not make me cut my admiration to them. Books are the window of the big big world. No matter what kind of book that you read, all is knowledgeable. When I was talking with someone who has more information about the books, they always turn on the atmosphere. Actually I prefer listening to speaking and they (the reader) always make me alive.
Music.
“Music is a total constant. That’s why we have such a strong visceral connection to it, you know? Because a song can take you back instantly to a moment, or a place, or even a person. No matter what else has changed in your or the world, that one song says the same, just like that moment.”
Music can also improve someone’s intelligent cause both of our brain, left side and right side, are working together. Based on research, it was applied on baby when pregnancy. For our health music can be used as a medium of relaxation so that the level of stress or fatigue can be reduced. Performance of the brain that is too heavy or it may cause a sense of fatigue even lead to a state of mind and emotional instability.
Laptop.
Can you estimate what the picture is it? Laptop, but I have not seen the laptop like that during my life.
“If there’s a book that you want to read, but it hasn’t been written yet, then you must write it.”
(Toni Morisson)
The point that I will show to you is: “Let’s write!”
Write it if you want to read it. I love more in writing than reading. Somebody will not call me crazy or “sok tau” because if I don’t know about something I will not writing about that. So I’m dominant write about my self and then you can not blame me because that’s my story. If you want to and you read this post, so please leave a comment and I’ll be very glad because you correct my post.
Writing is combination between reading, listening and doing something.
“My personal hobbies are reading, listening to music, writing a blog, smiling, and silence.”
My blog
Jangan mengira aku akan berhenti dan menghapus jejak-jejakmu dalam keseharianku. Sejenak aku tinggalkan karena aku tidak punya ide untuk mengisi kebebasanku ini. Kau menggodaku. Dengan menyediakan kotak putih kau terus memaksaku mencurahkan isi hatiku. Kau melihatku, mendengarku, dan merasakan luapan perasaanku lewat apa yang kau rasakan. Lemah kah, kuat kah, lama kah, atau sebentar kah.
Bermodalkan listrik aku bisa mengaksesmu. So easy to know me. Andai cahaya selalu berada dalam keadaan terbatas atau kekurangan mungkin aku tidak akan semelankolis ini, tetapi mungkin akan lebih melankolis. Aku harus berterima kasih kepada Perusahaan Listrik Negara untuk jasanya mengatur distribusi listrik. Terima kasih karena di daerahku listrik lancar dan tersebar. Kadang listrik dipadamkan untuk melindungimu dari sambaran petir. Lilin tidak akan membantuku dalam hal ini.
Kontemplasi dan melankolia adalah kebebasanku. Andai saja aku tahu bagaimana memanfaatkannya. Dan setidaknya aku menemukan satu jawaban: kamu –walaupun dengan begitu aku harus bercerita padamu–
Jika kalian melihat pintuku terbuka sebagian, masuklah. Dan bantu aku memberikan sebuah kisah padanya.
Aku merasa lebih baik dengan menulis
Alhamdulillah sampai saat ini Allah masih mengizinkanku menceritakan semua kesombongan dan keegoisanku di dalam semidiary ini. Lima menit aku menjadi tinggi tetapi lima menit kemudian aku menjadi nol. Coba lihatlah tulisan-tulisanmu kebelakang, saran seseorang. Kamu akan tahu pada saat apa kamu bicara dan pada saat apa kamu diam. Namun menemukan waktu untuk memilih diam adalah sangat sulit. Salah satu fungsi bibir adalah mengatup. Bagaimana mungkin aku dapat mendengar dan memahami sesuatu dengan mulut yang terus terbuka dan berbicara?
Sama sekali bukan memanjakan diri, membawa alam bawah sadar ke negeri antah berantah. Aku selalu bersemangat untuk berbagi sedikit ‘kesombonganku’ denganmu. Aku tidak mau memakai subjek orang ketiga karena aku tidak mau menciptakan jarak antara aku dan ceritaku, kecuali jika ceritaku adalah tentang kekecewaan, kesedihan dan kesendirian karena pada saat ini adalah waktu yang tepat untuk memilih diam di tengah bibir yang selalu ingin terbuka dan suara yang tidak bisa dihentikan, apabila berada dalam keadaan nyata. Dengan menulis setidaknya bibirku menjalankan salah satu fungsi yang jarang dimanfaatkannya dengan baik, otakku berjalan cerdas memilih padanan kata yang ‘menarik’ apabila aku membaca kembali dan pasti hatiku dan jiwaku terbawa terbang tinggi selama beberapa menit. Dan menit kemudian jiwaku kembali berada di titik nol yang mungkin akan terisi seperempat, setengah, penuh sampai meluber keluar wadah, atau bahkan nothing. Jangan berhenti!




mereka bilang..